Yuhuuuuu setelah lama gak pernah ngegambar, akhirnya tadi iseng ngegambar lagi.

Kali ini modelnya adalah seorang aktris yang lagi gue kagumin banget karena menurut gue dia adalah sosok perpaduan antara kecantikan dan kecerdasan. Bahkan dia pernah bilang I’d rather be smart than a movie star.

Ya dia nggak lain adalah seorang aktris papan atas dunia berdarah Yahudi, Natalie Portman.

Resonansi

Gelombang merambat kemana pun dia mau. Andai dia dapat memilih.

Dia merambat ke segala arah

Ke arah di mana macan mengejar, ke arah di mana rusa berlari.

Mungkin bila di hadapannya terbentang sebuah jalan setapak di antara dua jurang, dia tetap tak dapat memilih.

Menghentak kaki di jalan setapak, terserak pada permukaan air beriak di dasar jurang.

Gelombang merambat kemana pun dia mau. Andai dia tak membuat jiwa termangu.

Dia menggetarkan segala yang dilaluinya.

Gitar tua bergetar hingga merah memar, lonceng gereja berdentang dalam balutan bulan redup remang.

Mungkin bila di hadapannya terbentang segenggam hati di antara himpitan dua duri, dia tetap tak dapat memilih.

Merebah leher pada hati di ujung mati, terobek kulit pada duri-duri yang iri dengki.

Resonansi,

adalah awal dari segala empati.

Setiap manusia, tanpa terkecuali, tentunya ingin dimengerti, ingin manusia lain merasakan persis dengan apa yang dirasakannya.

Di saat sedih akan kehilangan, dia ingin manusia lain ikut merasakan sedihnya.

Di saat benci pada seorang manusia, dia ingin manusia lain ikut merasakan bencinya sehingga mereka juga membenci manusia yang sama.

Di saat suka pada seorang manusia,

dia ingin manusia itu juga merasakan rasa suka yang dia rasakan.

Resonansi,

adalah awal dari segala empati.

Manusia adalah makhluk radiasi. Dari tubuhnya manusia senantiasa memancarkan gelombang radiasi tak terlihat ke lingkungannya.

Dari gagasan,

proses berpikir,

hingga emosi.

Yang perlu manusia lakukan hanyalah mencapai kesetimbangan resonansi sehingga gelombang yang dipancarkannya pun menggetarkan manusia di sekitarnya dalam irama yang sama.

Bukan tidak mungkin dia akan merasakan sedih sama persis dengan yang kita rasakan.

Bukan tidak mungkin dia akan merasakan benci sama persis dengan yang kita rasakan.

Dan bukan tidak mungkin pula dia akan merasakan suka sama persis dengan yang kita rasakan.

Let Everything Changes

Cukup banyak orang terjebak dalam moto Just be yourself! sehingga mereka memandang perubahan diri adalah suatu hal yang negatif dan harus dihindari karena itu hanya akan membuat mereka kehilangan diri sendiri hingga akhirnya menjadi seorang yang lain.

Why don’t you just open your eyes, dude?!

Everything changed.

Everything changes.

Everything will change.

Let everything changes, naturally. We will never lose ourselves. But in the end, it will make us who we are, though.

Biarkanlah diri kita berubah jika alam memang mengharuskannya. Kita tidak akan kehilangan, karena bagaimana pun juga pada akhirnya itulah yang membuat kita benar-benar menjadi diri kita sendiri.

Blind

Dapatkah si buta menuntun si buta di tepi jurang?

Sekali-kali tidak!

Sebab keduanya akan terjatuh ke jurang hingga terantuk ke dasar bumi.

Dapatkah si buta menuntun si buta keluar dari gua hantu?

Sekali-kali tidak!

Sebab keduanya akan remuk tulangnya dilumat serigala gua sebelum sempat bertemu dengan si buta dari gua hantu yang asli.

Dapatkah si buta menuntun si buta menyeberang jalan raya kota Jakarta?

Sekali-kali tidak!

Sebab keduanya akan terpental ditabrak mobil Xenia.

Dapatkah si buta kedua matanya terbuka?

Dan melihat pelangi yang terbit selepas hujan?

Si buta baik-baik saja.

Di bawah cahaya remang hutan dia berjalan.

Menyapa cermin pada riak air telaga.

Eternity

Life is a never ending story, so I believe there’s no such thing as time.

Kita berjalan di atas satu garis keabadian, dimana segala akhir akan menjadi awal dan segala awal akan menjadi akhir.

Dan segala yang berasal dari titik akan kembali ke titik, segala yang berasal dari tanya akan kembali ke tanya.